Jumat, 28 April 2017

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MASYARAKAT DENGAN PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH (DBD) DIWILAYAH TARATARA KACEMATAN TOMOHON BARAT



BAB 1
PENDAHULUAN
  
A.    Latar belakang
     Penyakit berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat sampai saat   ini.Salah satu penyakit yang disebabkan oleh kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan adalah demam berdarah Dengue.Penyakit demam berdarah Dengue pertama kali ditemukan di Manila (Filipina) pada tahun 1953, selanjutnya menyebar keberbagai Negara. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara (Achmadi, 2011).
      Penyakit ini termasuk salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan bawah, maka sesuai dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 Tahun1989, setiap  penderita termasuk tersangka demam berdarah Dengue (DBD) harus segera dilaporkan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 24 jam oleh unit pelayanan kesehatan (rumah sakit,  puskesmas, poliklinik, balai pengobatan, dokter praktik swasta, dan lain-lain) (Depkes RI, 2005).
      Menurut Depkes RI (2009) pada tahun 2008 dijumpai kasus DBD di Indonesia sebanyak 137.469 kasus dengan CFR 0,86% dan IR sebesar 59,02 per 100.000 penduduk, dan mengalami kenaikan pada tahun 2009 yaitu sebesar 154.855 kasus dengan CFR 0,89% dengan IR sebesar 66,48 per 100.000, dan pada tahun 2010 Indonesia menempati urutan tertinggi kasus DBD di ASEAN yaitu sebanyak 156.086 kasus dengan kematian 1.358 orang. Tahun 2011 kasus DBD mengalami penurunan yaitu 49.486 kasus dengan kematian 403 orang (Ditjen PP & PL Kemkes RI, 2011). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS, 2007) dengan diagnosis + gejala penyakit DBD, penyakit ini juga ditemukan di semua kabupaten/kota dengan prevalensi 0,1-0,7%. Penyakit DBD dapat diditeksi di seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara dengan rerata prevalensi sebesar 0,4%. Prevalensi tertinggi ditemukan di Kabupaten Minahasa (0,7%), dan terendah di Kota Bitung (0,1%). Sebaran prevalensi penyakit DBD,semakin jelas bahwa penyakit DBD tidak hanya menyerang daerah perkotaan saja, tetapi sudah menyebar sampai daerah perdesaan. Kejadian penyakit DBD sangat dipengaruhi oleh musim.Kejadian DBD umumnya meningkat pada awal musim penghujan.Penyakit DBD dapat bersifat fatal bila tidak segera ditangani dengan benar.Program promosi kesehatan yang selama ini dilakukan dengan menekankan pentingnya upaya masyarakat melakukan 3M masih perlu ditingkatkan secara intensif sehingga memungkinkan kewaspadaan dan deteksi dini terhadap penyakit ini menjadi lebih baik suatu Kejadian Luar Biasa (KLB) jika sudah terdapat 1 kasus penderita telah termasuk sebagai kasus KLB.
      Dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan pemerintah dalam rangka pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui upaya-upaya pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan, seperti dengan cara melakukan pengasapan (foging) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan kegiatan 3M (menguras, menutup, mengubur). Namun hasilnya belum optimal bahkan masih dijumpai kejadian luar biasa (KLB) yang menelan korban jiwa.Hal ini tentu juga berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan DBD (Krianto, 2009).
      Dengan adanya kejadian demam berdarah Dengue (DBD) pada masyarakat, dibutuhkn pengahuan yang cukup serta dapat memberi respon yang dapat menunjang agar supaya mewaspadai penyakit tersebut. Tenaga kesehatan diharapkan dapat melaksanakan fungsi menentukan kebutuhan kesehatan masyarakat dan mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam memenuhi kebutuhan kesehatan serta memberikan pengeahuan kesehatan mengenai pencegahan penyakit demam berdarah Dengue (DBD).
Berdasarkan uraian diatas, penelitimerasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berakitan dengan “Hubungan tingkat Pengetahuan dengan Sikap Masyarakat Dengan Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah Kerja Puskesmas Taratara, Kecamatan Tomohon Barat”.

B.  Rumusan Masalah
     Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, peneliti merumuskan masalah “Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat dan pencegahan demam berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.

C.    Tujuan Penelitian
a.       Tujuan umum
Diketahui Hubungan tingkat Pengetahuan dengan Sikap Masyarakat Dengan  Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di wilayah tomohon.
b.      Tujuan khusus
1. Diketahui tingkat pengetahuan masyarakat dalam mengambil sikap untuk mencegah demam berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat .
2.  Diketahui pencegahan demam berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan tomohom barat.
3.     Dianalisa hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat dengan pencegahan demam berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.

D.   Manfaat Penelitian          
           a.      Bagi peneliti
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah tingkat pengetahuan dan pemahaman peneliti tentang hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat dengan pencegahan demam berdarah dengue dieilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.
b.      Bagi lahan atau tempat penelitian.
Sebagai bahan dan data tentang hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat dengan pencegahan demam berdarah dengue di wilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.
c.       Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya masalah pencegahan DBD.
d.      Bagi peneliti seterusnya
Sebagai dasar atau kajian awal bagi peneliti lain yang ingin meneliti permasalahan yang sama sehingga mereka memiliki landasan dan alur yang jelas.





BAB II
TINJAUAN TEORI 


A.    Pengertian pengetahuan
1.      Definisi
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam pembentukan tindakan seseorang (Notoadmojo, 2003).
2.   Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2003) Tingkat pengetahuan terdiri dari 6 tingkatan yaitu:
1.      Tahu (Know)
Tahu artinya sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari   sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan, tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
2.      Memenuhi (Comprehension)
Memenuhi artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3.      Aplikasi (Aplication).
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
4.      Analisa(Analysis)
Analisa diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan materi yang objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain.
5.      Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6.      Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi.
3.    Cara Mengukur Pengetahuan
Menurut Notoadmojo dan Danin (2005) cara mengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1.      Wawancara (Interview)
Wawancara adalah suatu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data oleh peneliti. Untuk mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang. Sasaran penelitian (responden) atau bercakap-cakap berhadapan muka orang tersebut (face to face).
2.       Angket
Angket adalah suatu cara pengumpulan data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak). Angket dilakukan dengan cara mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan, informasi, jawaban dan lainnya.
4.     Sumber Informasi Pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2005), sumber informasi pengetahuan terdiri dari :
1.      Sumber Informasi Dokumenter
Sumber informasi dokumenter adalah semua bentuk informasi yang berhubungan dengan dokumen baik dokumen-dokumen resmi maupun tidak resmi. Dokumen resmi adalah semua bentuk dokumen baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan yang ada dibawah tanggung jawab instansi resmi, misalnya laporan, statistik, catatan-catatan didalam kartu klinik dan lain-lain. Dokumen tidak resmi adalah segala bentuk dokumen yang berada atau menjadi tanggung jawab dan wewenang badan atau instansi tidak resmi atau perorangan, seperti biografi, catatan harian dan semacamnya. Sumber informasi dokumen dapat digolongkan menjadi  4 (empat) yaitu:
1.      Sumber Primer (Primary Resources).
Sumber primer adalah sumber informasi yang langsung berasal dari yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap data tersebut.
2.      Sumber Sekunder (Sekundery Resoruces).
Sumber sekunder adalah sumber informasi yang bukan dari tangan pertama, dan yang bukan mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap informasi atau data tersebut.
3.       Sumber Kepustakaan
Sumber kepustakaan adalah sumber informasi yang sangat penting yang terdapat dalam perpustakaan dan tersimpan berbagai bahan bacaan dan informasi dari berbagai disiplin ilmu.
4.      Sumber Informasi Lapangan.
Sumber informasi lapangan adalah sumber informasi yang diperoleh langsung dari objek di lapangan dapat diperoleh melalui tehnik observasi, wawancara, angket maupun eksperimen pendahuluan.


B.    Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD)
1.     Defenisi DBD
Menurut Misnadiarly seorang ahli peneliti utama bidang penyakit menular langsung Tuberkulosis, Mycobacteria, menuliskan dalam bukunya tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) yakni, demam berdarah adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Virus dengue sebagai penyebab penyakit DBD merupakan mikroorganisme sangat kecil dan hanya dapat dilihat dengan jenis mikroskop tertentu (elektron). Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus). Virus dengue yang berukuran 45-50 nanometer tersebut berasal dari famili Flaviviridae, yang dibedakan atas empat macam,Seseorang yang sudah terkena satu jenis DEN, bisa terkena demamberdarah lagi dari DEN yang lainnya dan bahkan bisa menjadi lebih fatal. Jika seseorang terkena DEN-1 misalnya, biasanya pasien akan membaikdan tubuh akan membentuk antibodi yang mengenali DEN-1 tersebut. Jikaterkena DEN-2 misalnya, maka sistem kekebalan tubuh dapat salah mengenali virus tersebut adalah DEN-1. Akibatnya, meski antibodi tubuh berkumpul menghadang virus, mereka gagal menghentikan infeksi dari DEN-2 tersebut dan malah memicu terjadinya suatu reaksi tubuh yang dikenal dengan nama Antibody Dependent Enhancement. (ADE). Virus dengue yang tidak mati tersebut memanfaatkan antibodi tubuh untuk memperbanyak diri yang mengakibatkan infeksi kedua tersebut bias menjadi lebih parah dari infeksi pertama, dan berakibat fatal.
      Saat virus dengue berkembang di tubuh nyamuk, virus tersebut memperbanyak diri, lalu berkumpul di saliva (air liur) nyamuk. Setelah itu, saliva bervirus tersebut dikeluarkan nyamuk saat menggigit manusia. Sebagian besar virus tersebut berada pada kelenjar liur yang terdapat pada alat tusuk nyamuk. Sehingga pada saat nyamuk tersebut menggigit manusia, maka bersamaan dengan air liur nyamuk tersebut masuk kedalam darah manusia. Virus hanya dapat hidup di dalam sel hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel manusia yang ditempati terutama untuk kebutuhan protein. Apabila daya tahan tubuh seseorang yang terkena infeksi virus tersebut rendah sebagai akibatnya sel jaringan akan semakin rusak. Apabila virus tersebut berkembang banyak, fungsi organ tubuh tersebut baik, maka akan sembuh dan timbul kekebalan terhadap virus dengue yang pernah masuk ke dalam tubuhnya.
      Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue disebarkan oleh nyamuk betina Aedes Aegypti, sedangkan Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhaege Fever (DHF) juga penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dimana suhu tubuh menjadi meningkat diatas normal yang cenderung dapat menimbulkan kematian.
      Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Demam Berdarah Dengue atau yang lebih dikenal dengan DBD ini merupakan penyakit  demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh jenis nyamuk betina Aedes Aegypti kepada manusia melalui gigitan nyamuk kepada manusia yang dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti gejala demam yang sangat tinggi dan dapat menimbulkan kematian.


2.     Faktor Penyebab Demam Berdarah Dengue

Menurut Dinas Kesehatan DKI dalam buku yang berjudul Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditulis oleh Misnadiarly, disebutkan mengenai faktor penyebab DBD tersebut, yakni virus dengue tersebut ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang merupakan faktor epidemi paling utama yang membawa dan menularkan virus dengue tersebut kepada manusia. Faktor penyebab lain yang dapat memungkinkan seseorang dapat terkena DBD dapat disebabkan antara lain:

a.)  Dilihat dari habitat nyamuk tersebut, misalnya untuk nyamuk betina Aedes Aegypti hidup di tempat yang padat, sehingga tempat umum untuk orang-orang yang sedang melakukan aktifitas seperti di tempat kerja, sekolah, dan tempat umum lainnya yang memungkinkan nyamuk tersebut dapat berhubungan langsung dengan manusia. Atau juga di kompleks perumahan yang jarak satu rumah dengan rumah yang lain tersebut tidak terlalu jauh, seperti di wilayah rumah padat penduduk, kostan, dan lain-lain. Sehingga kondisi lingkungan dan tempat tinggal tersebut dapat memberikan kesempatan untuk nyamuk menularkan virus dengue kepada manusia menjadi semakin besar.

b)   Perilaku masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat. Nyamuk senang bersarang di tempat-tempat yang dapat memberikannya ruang untuk berkembang biak, misalnya di kaleng bekas yang tergenang air apabila hujan, di bak mandi yang jarang dikuras dan terbuka. Dan juga apabila kondisi tubuh seseorang kurang sehat, berarti kemungkinan untuk dapat tertular virus dengue dari nyamuk akan semakin besar karena ketahanan tubuh seseorang yang lemah.



3.   Penyebab/ Etiologi

Penyebab utama dalam penularan penyakit DBD kepada manusia memang disebabkan oleh nyamuk. Namun tidak semua nyamuk dapat menularkan penyakit DBD tersebut kepada manusia. Karena berdasarkan informasi dari data-data yang ditemukan, terdapat beberapa jenis nyamuk yang berpotensi menularkan penyakit DBD tersebut kepada manusia selain jenis nyamuk betina Aedes Aegypti sebagai faktor utama dalam menularkan penyakit DBD kepada manusia. Beberapa spesies nyamuk tersebut ialah jenis nyamuk lain seperti nyamuk Aedes Albopictus, Aedes Polynesiensis, anggota dari Aedes Scutellaris Complex, dan Aedes (Finlaya) Niveus. Jenis nyamuk tersebut memiliki ciri khas berwarna belang putih di kakinya.
      Demam berdarah tidak menular langsung dari manusia ke manusia, melainkan melalui nyamuk sebagai perantaranya. Beberapa jenis spesies nyamuk tersebut selain Aedes Aegypti dianggap sebagai faktor sekunder bagi nyamuk yang menularkan virus dengue kepada manusia yang menyebabkan DBD. Karena habitat nyamuk tersebut berbeda-beda, seperti contohnya nyamuk Aedes Aegypti merupakan nyamuk yang paling berpotensi dalam menularkan penyakit DBD kepada manusia dan lebih banyak dikenal sebagai nyamuk yang menularkan DBD, karena nyamuk Aedes Aegypti hidup dan berkembang biak di lingkungan yang padat, oleh karena itu nyamuk tersebut sangat dekat dengan manusia karena hidup dan berkembang biak di lingkungan yang sama. Sedangkan untuk jenis nyamuk lain seperti Aedes Albopictus, nyamuk tersebut hidup di lingkungan seperti di kebun-kebun, sehingga jarang melakukan kontak dengan manusia.
      Jenis nyamuk yang menularkan virus dengue pun hanya nyamuk betina saja, karena nyamuk jantan menghisap cairan tumbuhan dan sari bunga untuk keperluan hidupnya, sedangkan untuk nyamuk betina ialah dengan menghisap darah untuk keperluan hidupnya. Serta nyamuk-nyamuk tersebut lebih cenderung untuk menghisap darah manusia dari pada menghisap darah hewan atau binatang. Dan dilihat dari lingkungan tempat tinggalnya, nyamuk Aedes Aegypti tersebut lebih senang bersarang dan berkembang biak di tempat yang bersih, seperti di genangan air dalam bak mandi dan di sudut-sudut dalam rumah seperti tempat gantungan baju.
      Wilayah Indonesia merupakan wilayah dengan iklim tropis, sehingga sering terjadi musim penghujan. Menurut Sri Rezeki Hadi Negoro, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, demam berdarah dengue memang mencapai puncaknya pada musim hujan, tetapi bukan tidak mungkin penyakit tersebut dapat muncul di bulan lain seperti pada musim kemarau. Karena pada musim penghujan perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti menjadi meningkat, dimana pada saat itu terjadi banyak genangan air yang menjadi tempat bersarangnya nyamuk. Akan tetapi apabila pada musim kemarau, sepanjang nyamuk Aedes Aegypti masih ada dan tersedianya air sebagai sarana siklus perkembang biakannya, maka kasus demam berdarah tetap rawan.
              4.   Mekanisme Penularan Virus Dengue Kepada Manusia.
      Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, menuliskan dalam sebuah situs online mengenai “Awas Demam Berdarah Dengue” yakni, saat seseorang tergigit nyamuk Aedes Aegypti yang sudah terinfeksi. virus dengue di dalam tubuh nyamuk tersebut, maka virus dengue tersebut akan masuk bersama air liur nyamuk kedalam tubuh manusia. Dalam tubuh manusia, terutama jika daya tahan tubuh sedang menurun atau tidak mempunyai kekebalan terhadap virus dengue tersebut, virus dengan cepat akan memperbanyak diri dan menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah bening yang kemudian masuk kedalam sirkulasi darah. Pada satu hingga dua hari akan terjadi reaksi penolakan antara antibodi dengan virus dengue yang terdeteksi sebagai benda asing oleh tubuh. Badan biasanya mengalami gejala demam dengan suhu antara 38° hingga 40° C, sebagai akibat reaksi antibodi dengan virus tersebut akan diikuti juga dengan penurunan trombosit. Penurunan trombosit ini mulai dapat terdeteksi pada hari ketiga. Masa kritis penderita demam berlangsung sesudahnya, yakni mulai pada hari keempat dan kelima. Pada fase ini, suhu badan akan turun, diikuti dengan melemahnya tubuh hingga bisa terjadi penurunan kesadaran hingga hilang kesadaran yang disebut Dengue Shock Syndrome (DSS).
             5.  Ciri Umum Gejala Seseorang Terkena DBD.
Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, gejala DBD tidak begitu jelas dan sering tertukar atau menyerupai gejala demam lain seperti demam tifoid, infeksi tenggorok, infeksi otak, campak, flu atau infeksi saluran nafas lainnya yang disebabkan oleh virus. Masyarakat awam, bahkan seorang dokter ahli pun kadang sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejala awal DBD tidak khas, hampir semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala khas seperti pendarahan pada kulit atau tanda pendarahan lainnya kadang terjadi hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini terlambat didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan. Perjalanan penyakitnya sangat cepat, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa masuk dalam keadaan kritis. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, maka perlu diketahui deteksi dini dan tanda bahaya DBD. Jika terdapat gejala klinis seperti dibawah ini, sebaiknya diwaspadai kemungkinan demam berdarah.
Berikut ciri-ciri dan gejala seseorang terkena DBD :
a)    Mendadak panas tinggi selama 2 -7 hari, tampak lemah lesu, suhu badan antara 38-40°C. Pada demam berdarah, dikenal pola demam pelana kuda (demam beberapa hari naik lalu turun, dan naik kembali sehingga menyerupai bentuk pelana kuda). Selain itu apabila panas tersebut tidak disertai batuk, pilek dan sakit tenggorokan, atau di lingkungan rumah tidak ada yang menderita penyakit flu, maka perlu dicurigai kemungkinan terkena DBD.
b)   Sakit kepala, badan dan sendi terasa pegal dan linu. Tampak bintik-bintik merah pada kulit, dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang.
c)  Kadang-kadang pendarahan di hidung (mimisan). Perut tidak enak, ada rasa mual dan muntah. Jika sudah berat, buang air besar dan muntah bercampur darah.
d)   Kadang-kadang nyeri pada ulu hati karena terjadi pendarahan di lambung.
e) Bila sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin, dan berkeringat.
Pemeriksaan laboratorium yang menunjang dugaan demam berdarah seperti turunnya trombosit (sel darah yang berperan untuk pembekuan darah), naiknya hematokrit (penunjuk kekentalan darah). Ada juga pemeriksaan jenis virus yang menyerang. Infeksi virus dengue dalam tubuh dapat menyebabkan naiknya pembuluh darah yang menyebabkan cairan plasma tubuh merembes keluar pembuluh darah. Inilah yang menyebabkan kekentalan darah (yang ditunjukan oleh kadar hematokrit dan kadar hemoglobin) meningkat dan penderita akan mengalami dehidrasi. Selain itu, pembuluh darah juga menjadi rapuh dan rusak, sehingga mudah terjadi pendarahan. Virus tersebut juga dapat memicu mekanisme dalam tubuh yang dapat menyebabkan faktor pembekuan darah, dan juga penurunan trombosit yang kurang dari 150.000. Perubahan tersebut biasanya terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5. Karena masa paling kritis yang dapat menyebabkan kematian adalah pada saat penderita mengalami syok. Bisa dari akibat pendarahan yang banyak atau akibat kebocoran cairan tubuh yang tidak terlihat dari luar.
Waktu yang paling kritis adalah hari-hari pertama setelah panas turun, bukan pada saat panas sedang tinggi-tingginya. Oleh karenanya pasien DBD yang dirawat di Rumah Sakit biasanya tidak diperbolehkan pulang dahulu walaupun suhu panas badannya sudah turun.
          6.   Profil Seseorang yang Dapat Terkena DBD
Menurut Misnadiarly, demam berdarah dengue merupakan penyakit yang senantiasa ada sepanjang tahun di Indonesia. Oleh karena itu disebut penyakit epidemis. Penyakit ini menunjukan peningkatan jumlah orang yang terserang setiap 4-5 tahun. Kelompok yang sering terkena adalah anak-anak umur 4-10 tahun, walaupun dapat pula mengenai bayi di bawah umur 1 tahun. Akhir akhir ini banyak juga megenai orang dewasa muda umur 18-25 tahun. Laki-laki dan perempuan sama-sama dapat terkena tanpa terkecuali. Cara hidup nyamuk terutama nyamuk betina yang mengigit pada pagi dan siang hari, kiranya menjadi penyebab seseorang untuk terkena demam berdarah. Nyamuk Aedes Aegypti yang menyukai tempat teduh, terlindung matahari, dan berbau manusia, oleh karena itu anak-anak atau balita yang masih membutuhkan tidur pagi dan siang hari sering kali dengan mudah menjadi sasaran gigitan nyamuk. Sarang nyamuk selain di dalam rumah, juga banyak dijumpai di sekolah, apalagi apabila keadaan kelas gelap dan lembab.
Menurut Aman B. Pulungan, dari RSIA Hermina Jati Negara, awalnya demam berdarah memang lebih banyak menyerang anak-anak, tapi sekarang telah terjadi pergeseran, orang dewasa yang terkena pun cukup banyak. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor daya tahan tubuh, seperti jika orang dewasa tersebut kurang menjaga kondisi tubuhnya seperti berolah raga dan pola makan yang tidak baik dan sehat dapat menyebabkan ketahanan tubuh seseorang menjadi berkurang, jenis makanan yang dikonsumsi sangat mempengaruhi kesehatan. Apalagi pada zaman sekarang ini orang-orang cenderung menyukai hal-hal yang instan, termasuk dalam mengkonsumsi makanan seperti makanan cepat saji yang tidak terlalu baik dikonsumsi tubuh, apalagi jika dalam jumlah yang banyak. Hal lain yang bisa mempengaruhi kondisi tubuh ialah karena orang dewasa cenderung mudah didera stress, sehingga perhatian terdahap kondisi tubuh bisa jadi berkurang, seperti berkurangnya nafsu makan, kestabilan kondisi tubuh menjadi berkurang, dan lain-lain. Pengaruh kondisi lingkungan juga dapat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang, seperti di daerah perkotaan yang kadar polusinya sangat tinggi, sehingga orang dapat menghirup udara kotor yang sudah tercemar.
Di samping nyamuk Aedes Aegypti yang senang hidup di dalam rumah, juga terdapat nyamuk Albopictus yang dapat menularkan penyakit DBD. Nyamuk Aedes Albopictus hidup di luar rumah, di kebun yang rindang, sehingga anak usia sekolah dapat terkena gigitan nyamuk ketika sedang bermain, atau pada orang dewasa jika melakukan aktivitas seperti bekerja atau berkebun. Faktor daya tahan anak yang masih belum sempurna seperti halnya orang dewasa, agaknya juga merupakan faktor mengapa anak lebih banyak terkena penyakit DBD dibandingkan orang dewasa. Di perkotaan, nyamuk sangat mudah terbang dari satu rumah ke rumah lainnya dari rumah ke kantor, atau tempat umum seperti tempat ibadah, dan lain-lain. Oleh karena itu, orang dewasa pun menjadi sasaran berikutnya setelah anak-anak, terutama dewasa muda (18-25 tahun) sesuai dengan kegiatan kelompok ini pada siang hari di luar rumah. Walaupun demikian, pada umumnya penyakit DBD dewasa lebih ringan dari pada anak-anak.
              7.   Penanganan Demam Berdarah Dengue
Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, penanganan awal DBD, dimulai pada saat munculnya gejala demam, penderita dianjurkan untuk beristirahat kemudian memberikan asupan cairan sebagai pengganti plasma darah yang mulai keluar dari pembuluh darah. Saat ini, cairan yang dianjurkan adalah larutan gula dan garam atau oralit yang komposisinya dinilai setara dengan plasma darah.
      Pemakaian jus jambu, susu manis atau teh manis bisa saja digunakan sebagai penyerta, bergantian antara asupan larutan gula-garam. Jika pada hari ketiga, demam masih juga belum turun, diajurkan untuk segera dibawa ke dokter untuk pemeriksaan trombosit.
Setelah seseorang mengetahui gejala awal seseorang terkena penyakit DBD, maka diperlukan penanganan dan perawatan yang cepat dan tepat agar penyakit tersebut tidak semakin parah.
Karena ternyata penyembuhan DBD sangat tergantung pada perawatan dan penanganan yang cepat. Berikut pertolongan pertama yang dapat dilakukan kepada penderita DBD:
a)    Memberikan minum sebanyak-banyaknya kira-kira 2 liter (8 gelas) dalam satu hari atau 3 sendok makan setiap 15 menit. Dengan memberikan minum yang banyak diharapkan cairan dalam tubuh tetap stabil.
b)  Demam yang tinggi demikian juga mengurangi cairan tubuh dan dapat menyebabkan kejang pada penderita yang mempunyai riwayat kejang bila demam tinggi. Untuk menurunkan demam, beri obat penurun panas yang berasal dari golongan parasetamol atau asetaminophen. Tidak disarankan untuk diberikan jenis asetosal atau aspirin karena dapat merangsang lambung sehingga akan memperberat bila terdapat pendarahan lambung.
c)   Apabila penderita demamnya terlalu tinggi sebaiknya diberikan kompres hangat dan bukan kompres dingin, karena kompres dingin dapat menyebabkan penderita menggigil.
d)   Sebagai tambahan, untuk penderita yang mempunyai riwayat kejang demam di samping obat penurun panas dapat diberikan obat anti kejang.
e)    Pada awal sakit yaitu demam 1-3 hari, sering kali gejala menyerupai penyakit lain seperti radang tenggorok, campak, atau demam tifoid (tifus). Oleh sebab itu diperlukan kontrol ulang ke dokter apabila demam tetap tinggi 3 hari terus menerus apalagi jika penderita bertambah lemah dan lesu.
f)    Untuk membedakan dengan penyakit lainnya seperti tersebut di atas, pada saat ini diperlukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah darah.
g)   keadaan penderita cenderung menjadi kental atau lebih.
h)   Apabila masih baik, artinya tidak ada tanda kegawatan dan hasil laboratorium darah masih normal, maka penderita dapat berobat jalan. Kegawatan masih dapat terjadi selama penderita masih demam sehingga pemeriksaan darah sering kali perlu diulang kembali.
Menurut Widodo Judarwanto menuliskan dalam website nya mengenai “Demam Berdarah Dengue atau Bukan?” yakni, secara medis sebenarnya tidak ada pengobatan secara khusus pada penderita DBD. Penyakit ini adalah self limiting desease atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya. Prinsip pengobatan secara umum adalah pemberian cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa. Pemberian minum yang mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman yang manis, dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada penderita DBD. Hal penting dalam kasus DBD ini bukan mengobati tetapi melakukan pencegahan sejak dini. Tetapi tidak ada jaminan seseorang akan luput sepenuhnya hanya dengan melakukan pencegahan saja. Paling tidak adalah kemampuan dan ketanggapan dalam mendeteksi dini penyakit DBD tersebut secara cermat dan benar, serta melakukan penanganannya secara cepat dan tepat apabila sudah terlanjur terkena penyakit DBD tersebut. Sehingga setidaknya dapat mengurangi kemungkinan untuk tidak sampai pada keadaan yang lebih parah yang tidak diinginkan seperti kematian.

               8.   Kapan Penderita Dibawa ke Rumah Sakit
Seorang yang diduga menderita demam berdarah akan mengalami bahaya apabila mendapat syok dan pendarahan hebat. Untuk mencegah hal-hal tersebut, penderita dianjurkan dirawat di rumah sakit. Seseorang harus dirawat di rumah sakit apabila dianjurkan dirawat di rumah sakit dan menderita gejala-gejala di bawah ini:
a. Demam terlalu tinggi (lebih dari 39° C atau lebih)
b. Muntah terus-menerus
c. Tidak dapat atau tidak mau minum sesuai dengan anjuran
d. Kejang
e. Pendarahan hebat, muntah atau berak darah.
f. Nyeri perut hebat.
g. Timbul gejala syok, gelisah atau tidak sadarkan diri, napas cepat, seluruh badan teraba dan lembab, bibir dan kuku kebiruan, merasa haus, kencing berkurang atau tidak sama sekali.
h.  Hasil laboratorium menunjukan peningkatan kekentalan darah dan atau penurunan jumlah trombosit.
Perlu diingatkan, pada saat mengantar penderita untuk dirawat, sesaat setelah tiba di rumah sakit segera diberitahukan kepada perawat bahwa penderita kemungkinan menderita demam berdarah. Pemberitahuan ini perlu disampaikan kepada perawat atau dokter yang menerima pertama kali untuk mendapat pertolongan lebih cepat. Penderita dalam keadaan gawat memerlukan pertolongan segera dan makin cepat ditolong akan memperbesar kemungkinan untuk sembuh kembali. Apabila salah satu anggota keluarga menderita sakit demam berdarah, karena mudah menular melalui gigitan nyamuk, sebaiknya segera berobat untuk memastikan apakah tertular demam berdarah atau tidak.
 






BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A.    Kerangka konsep penilitian
Penelitian ini menggunakan metode analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional (sekat silang) yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan variabel yaitu hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat dengan pencegahan demam berdarah dengue (DBD) diwilayah Tomohon.

                                          Gambar 3.1 :

Hubungan tingkat kepatuhan dengan sifat masyarakat dengan pencegahan demam berdarah dengue (DBD) ) diwilayah kerja puskesmas taratara kecamatan tomohon barat



B.    Hipotesa penelitian
Hipotesis adalah kesimpulan teoritis yang masih baru dibuktikan kebenarannya memulai analisa terhadap bukti-bukti empiris. Setelah membuktian dari hasil penelitian, maka hipotesa ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau ditolak

H0 : tidak ada hubungan tingkat pengetahuan dengan sifat masyarakat dengan pencegahan demam berdarah (DBD)
H1: adanya hubungan tingkat pengetahuan dengan sifat masyarakat dengan pencegahan demam berdarah (DBD)

C.     Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan penjelasan semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara operasional sehingga mempermudah pembaca dalam megartikan makna penelitian. (setiadi, 2013).

            Tabel 3.1 definisi operasional
No
Variabel
Definisi operasional
parameter
Instrument
skala
skore
1
Independen:
Tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat
Tingkat pengetahuan adalah: kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu terhadap objek tertentu yang mana tentang penglihatan, pendengaran, penciuman dll.
Tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat   
kousioner
Nominal
Pengetahuan baik7 - 10
Pengetahuan cukup : 4 - 6
Pengetahuan kurang: 0-3
2
Dependen :
Pencegahan demam berdarah (DBD)
Demam berdarah adalah infeksi fivirus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk aedes dan dapat membuat penderitan menjadi pusing, sakit kepela, demam, dan nyeri .
Pelaksanaan:
melakukan pengasapan (foging) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan kegiatan 3M (menguras, menutup, mengubur)
Lembaran observasi
Nominal
1.lakukan

2.tidaklakukan








BAB IV
METODE PENELITIAN

       A. Desain penelitian
      Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode Deskriptif Analitik dengan pendekatan croos sectional dimana data menyangkut variabel bebas atau resiko dan variabel terikat atau variabel akibat, akan dikumpulkan dalam waktu bersamaan .(notoadmodjo, 2012)
B.     Tempat dan waktu penelitian
       1.      Tempat penelitian
Penelitian ini akan direncanakan diwilayah kerja puskesmas taratara kecamatan tomohon barat
         2.      Waktu penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilakukan pada bulan juli 2017.

           C.    Populasi dan teknik sampel

1.      Populasi
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Setiadi,2013). Populasi dalam penelitian ini adalah penderita DBD sebanyak 140 orang di wilayah kerja Puskemas taratara kecamatan tomohon barat.
2.      Sampel
Sampel penelitian  adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan di anggap mewakili seluruh populasi. Sedangkan sampling adalah suatu proses dalam menyeleksi porsi untuk menjadi sampel dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Setiadi, 2013)
      Cara pemilihan sampek dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling  (non probability sampling ) yaitu suatu tehnik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti yang disesuaikan dengan krikteria inklusi yang telah di rangcang oleh peneliti, sehingga pemilihan sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populas yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008).

        D.   Instrument penelitian
       Instrument penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulan data agarpekerjaannya lebih mudah dan hasilnya, lebih baik, dalam arti lebih cermat,  lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2014)
Untuk melakukan pengumpulan data peneliti membuart instrument sebagai pedoman pengumpulan data. Koesioner terdiri dari .
a.     Data demografi responden.
b.   Lembaran koesioner mengenai tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat berisi 10 pertanyaan yang diukur menggunakan skala penggukuran skala Guttman dengan krikteria pemberia nilai 2 (dua) untuk jawaban ya nilai 1(satu)  untuk jawaban tidak.
         E.   Analisa data 
           Agar lebih bermakna data  yang telah diberi skor dianalisa dengan uji statistic, analisa data dilakukan dengan dua tahap yaitu :
1.      Analisa univariat
Dilakukan terhadao tiap-tiap variabel penelitian terutama untuk melihat tampilan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap-tiap variabel.
2.      Analisa bivariate
Untuk melihat hubungan dari variabel independen terhadap veriabel dependen. Analisa bivariate yang dilakukan terhadap dua variabel diduga berhubungan atau berkorelasi.
Dengan menggunakan analisis dari uji statistic Chi Square jika tidak memenuhi syarat maka akan menggunakan uji fisher exact dengan tingkat kemaknaan 뱲0,05.
        F.   Etika penelitian 
          Setiap penelitian yang menggunakan objek harus mengikuti aturan etika dalam hl ini adalah adanya persetujuan  (setiandi,2013). Etika yanh ditulis dalam penelitian ini antara lain :
1.      Lembaran persetujuan ( informend concent)
Responden ditetapkan terlebih dahulu sesuai kriteria inklusi, lalu diberi penjelasan tentang kegiatan penelitian, tujuan dan dampak pada responden, setelah responden menyatakan setuju untuk dijadikan subjek penelitian maka diberikan kesepakatan tertulis melalui  lembar informed consent, bila subjek menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek.
2.      Tampa nama ( Anonimity)
Seluruh responden yang dijadikan sample dalam penelitian tidak akan disebutkan namanya baik dalam kuesioner maupun dalam penyajian pelaporan penelitian tetapi lembar tersebut diberikan kode.
a.      Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.








 DAFTAR PUSTAKA
 
Gulo, S. 2012 Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Kebersihan Lingkungan Dengan Upaya Pencegahan Dbd Di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar Kec. Medan Tuntungan, (Di Akses Pada 2012)

Paendong, C. Nursalam, Makausi, E 2015 Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Dengan Pencegahan Demam Berdarah Dengue(Dbd) Di Wilayah Kerja Puskesmas Taratara Kecamatan Tomohon Barat, E-jurnal vol 2 (2) juni 2015

Nursalam, 2008. Konsep dan metodologi penilitian ilmu keperawatan. Salemba madika. jakarta

Riset kesehatan dasar 2013




HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MASYARAKAT DENGAN PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH (DBD) DIWILAYAH TARATARA KACEMATAN TOMOHON BARAT

BAB 1 PENDAHULUAN     A.     Latar belakang      Penyakit berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat sa...