BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Penyakit
berbasis lingkungan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat sampai
saat ini.Salah satu penyakit yang
disebabkan oleh kondisi sanitasi lingkungan yang tidak memenuhi syarat
kesehatan adalah demam berdarah Dengue.Penyakit demam berdarah Dengue pertama
kali ditemukan di Manila (Filipina) pada tahun 1953, selanjutnya menyebar
keberbagai Negara. Data dari seluruh dunia menunjukkan Asia menempati urutan
pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung
sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, World Health Organization (WHO) mencatat
negara Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara
(Achmadi, 2011).
Penyakit ini termasuk salah satu penyakit
menular yang dapat menimbulkan bawah, maka sesuai dengan Undang-Undang No. 4
Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta Peraturan Menteri Kesehatan No.
560 Tahun1989, setiap penderita termasuk
tersangka demam berdarah Dengue (DBD) harus segera dilaporkan selambat-lambatnya
dalam jangka waktu 24 jam oleh unit pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, poliklinik, balai pengobatan,
dokter praktik swasta, dan lain-lain) (Depkes RI, 2005).
Menurut Depkes RI (2009) pada tahun 2008
dijumpai kasus DBD di Indonesia sebanyak 137.469 kasus dengan CFR 0,86% dan IR
sebesar 59,02 per 100.000 penduduk, dan mengalami kenaikan pada tahun 2009
yaitu sebesar 154.855 kasus dengan CFR 0,89% dengan IR sebesar 66,48 per
100.000, dan pada tahun 2010 Indonesia menempati urutan tertinggi kasus DBD di
ASEAN yaitu sebanyak 156.086 kasus dengan kematian 1.358 orang. Tahun 2011
kasus DBD mengalami penurunan yaitu 49.486 kasus dengan kematian 403 orang
(Ditjen PP & PL Kemkes RI, 2011). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS, 2007) dengan diagnosis + gejala penyakit DBD, penyakit ini juga
ditemukan di semua kabupaten/kota dengan prevalensi 0,1-0,7%. Penyakit DBD
dapat diditeksi di seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara dengan rerata
prevalensi sebesar 0,4%. Prevalensi tertinggi ditemukan di Kabupaten Minahasa
(0,7%), dan terendah di Kota Bitung (0,1%). Sebaran prevalensi penyakit
DBD,semakin jelas bahwa penyakit DBD tidak hanya menyerang daerah perkotaan saja,
tetapi sudah menyebar sampai daerah perdesaan. Kejadian penyakit DBD sangat
dipengaruhi oleh musim.Kejadian DBD umumnya meningkat pada awal musim
penghujan.Penyakit DBD dapat bersifat fatal bila tidak segera ditangani dengan
benar.Program promosi kesehatan yang selama ini dilakukan dengan menekankan
pentingnya upaya masyarakat melakukan 3M masih perlu ditingkatkan secara
intensif sehingga memungkinkan kewaspadaan dan deteksi dini terhadap penyakit
ini menjadi lebih baik suatu Kejadian Luar Biasa (KLB) jika sudah terdapat 1
kasus penderita telah termasuk sebagai kasus KLB.
Dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan
pemerintah dalam rangka pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui
upaya-upaya pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan, seperti dengan cara
melakukan pengasapan (foging) dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan
kegiatan 3M (menguras, menutup, mengubur). Namun hasilnya belum optimal bahkan
masih dijumpai kejadian luar biasa (KLB) yang menelan korban jiwa.Hal ini tentu
juga berkaitan erat dengan tingkat pengetahuan masyarakat tentang pencegahan
DBD (Krianto, 2009).
Dengan adanya kejadian demam berdarah
Dengue (DBD) pada masyarakat, dibutuhkn pengahuan yang cukup serta dapat
memberi respon yang dapat menunjang agar supaya mewaspadai penyakit tersebut.
Tenaga kesehatan diharapkan dapat melaksanakan fungsi menentukan kebutuhan
kesehatan masyarakat dan mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam
memenuhi kebutuhan kesehatan serta memberikan pengeahuan kesehatan mengenai
pencegahan penyakit demam berdarah Dengue (DBD).
Berdasarkan
uraian diatas, penelitimerasa tertarik untuk melakukan penelitian yang
berakitan dengan “Hubungan tingkat Pengetahuan dengan Sikap Masyarakat Dengan
Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah Kerja Puskesmas Taratara,
Kecamatan Tomohon Barat”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, peneliti merumuskan masalah
“Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat dan
pencegahan demam berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.
a. Tujuan
umum
Diketahui
Hubungan tingkat Pengetahuan dengan Sikap Masyarakat Dengan Pencegahan Demam
Berdarah Dengue (DBD) Di wilayah tomohon.
b. Tujuan
khusus
1. Diketahui
tingkat pengetahuan masyarakat dalam mengambil sikap untuk mencegah demam
berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat .
2. Diketahui
pencegahan demam berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan
tomohom barat.
3. Dianalisa
hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat dengan pencegahan demam
berdarah dengue (DBD) diwilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.
a. Bagi peneliti
Penelitian
ini bermanfaat untuk menambah tingkat pengetahuan dan pemahaman peneliti
tentang hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat dengan pencegahan demam
berdarah dengue dieilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.
b.
Bagi
lahan atau tempat penelitian.
Sebagai bahan dan data tentang
hubungan pengetahuan dan sikap masyarakat dengan pencegahan demam berdarah
dengue di wilayah puskesmas taratara kecamatan tomohon barat.
c. Bagi institusi pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya masalah pencegahan DBD.
d. Bagi peneliti seterusnya
Sebagai dasar atau kajian awal bagi
peneliti lain yang ingin meneliti permasalahan yang sama sehingga mereka
memiliki landasan dan alur yang jelas.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
Pengertian
pengetahuan
1.
Definisi
Pengetahuan
adalah merupakan hasil dari “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indera manusia yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
penting dalam pembentukan tindakan seseorang (Notoadmojo, 2003).
2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2003) Tingkat
pengetahuan terdiri dari 6 tingkatan yaitu:
1.
Tahu (Know)
Tahu artinya sebagai mengingat
suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan, tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima.
2.
Memenuhi (Comprehension)
Memenuhi artinya sebagai suatu
kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan
dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
3.
Aplikasi (Aplication).
Aplikasi diartikan sebagai
kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi sebenarnya.
4.
Analisa(Analysis)
Analisa diartikan sebagai kemampuan
untuk menjabarkan materi yang objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di
dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain.
5.
Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu
kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
6.
Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan
untuk melakukan justifikasi atau penelitian
terhadap suatu materi.
3. Cara Mengukur Pengetahuan
Menurut Notoadmojo dan Danin (2005)
cara mengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
1.
Wawancara (Interview)
Wawancara adalah suatu metode yang
digunakan untuk mengumpulkan data oleh peneliti. Untuk mendapatkan keterangan
atau pendirian secara lisan dari seseorang. Sasaran penelitian (responden) atau
bercakap-cakap berhadapan muka orang tersebut (face to face).
2.
Angket
Angket adalah suatu cara pengumpulan
data atau suatu penelitian mengenai suatu masalah yang umumnya banyak
menyangkut kepentingan umum (orang banyak). Angket dilakukan dengan cara
mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang berupa formulir-formulir, diajukan
secara tertulis kepada sejumlah subjek untuk mendapatkan tanggapan, informasi,
jawaban dan lainnya.
4. Sumber Informasi Pengetahuan
Menurut Notoadmojo (2005), sumber
informasi pengetahuan terdiri dari :
1.
Sumber Informasi Dokumenter
Sumber
informasi dokumenter adalah semua bentuk informasi yang berhubungan dengan
dokumen baik dokumen-dokumen resmi maupun tidak resmi. Dokumen resmi adalah
semua bentuk dokumen baik yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan yang
ada dibawah tanggung jawab instansi resmi, misalnya laporan, statistik,
catatan-catatan didalam kartu klinik dan lain-lain. Dokumen tidak resmi adalah
segala bentuk dokumen yang berada atau menjadi tanggung jawab dan wewenang
badan atau instansi tidak resmi atau perorangan, seperti biografi, catatan
harian dan semacamnya. Sumber
informasi dokumen dapat digolongkan menjadi
4 (empat) yaitu:
1.
Sumber
Primer (Primary Resources).
Sumber
primer adalah sumber informasi yang langsung berasal dari yang mempunyai
wewenang dan tanggung jawab terhadap data tersebut.
2.
Sumber
Sekunder (Sekundery Resoruces).
Sumber sekunder adalah sumber
informasi yang bukan dari tangan pertama, dan yang bukan mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap
informasi atau data tersebut.
3.
Sumber Kepustakaan
Sumber kepustakaan adalah sumber
informasi yang sangat penting yang terdapat
dalam perpustakaan dan tersimpan berbagai bahan bacaan dan informasi dari berbagai disiplin ilmu.
4.
Sumber
Informasi Lapangan.
Sumber informasi lapangan adalah
sumber informasi yang diperoleh langsung
dari objek di lapangan dapat diperoleh melalui tehnik observasi, wawancara, angket maupun eksperimen pendahuluan.
B.
Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD)
1. Defenisi DBD
Menurut Misnadiarly seorang ahli
peneliti utama bidang penyakit menular langsung Tuberkulosis, Mycobacteria,
menuliskan dalam bukunya tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) yakni, demam berdarah
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus. Virus dengue sebagai
penyebab penyakit DBD merupakan mikroorganisme sangat kecil dan hanya dapat
dilihat dengan jenis mikroskop tertentu (elektron). Penularan infeksi virus
dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama Aedes Aegypti dan
Aedes Albopictus). Virus dengue yang berukuran 45-50 nanometer tersebut berasal
dari famili Flaviviridae, yang dibedakan atas empat macam,Seseorang yang sudah
terkena satu jenis DEN, bisa terkena demamberdarah lagi dari DEN yang lainnya
dan bahkan bisa menjadi lebih fatal. Jika seseorang terkena DEN-1 misalnya,
biasanya pasien akan membaikdan tubuh akan membentuk antibodi yang mengenali
DEN-1 tersebut. Jikaterkena DEN-2 misalnya, maka sistem kekebalan tubuh dapat
salah mengenali virus tersebut adalah DEN-1. Akibatnya, meski antibodi tubuh
berkumpul menghadang virus, mereka gagal menghentikan infeksi dari DEN-2
tersebut dan malah memicu terjadinya suatu reaksi tubuh yang dikenal dengan
nama Antibody Dependent Enhancement.
(ADE). Virus dengue yang tidak mati tersebut memanfaatkan antibodi tubuh untuk
memperbanyak diri yang mengakibatkan infeksi kedua tersebut bias menjadi lebih
parah dari infeksi pertama, dan berakibat fatal.
Saat virus dengue berkembang di tubuh nyamuk, virus tersebut
memperbanyak diri, lalu berkumpul di saliva (air liur) nyamuk. Setelah itu,
saliva bervirus tersebut dikeluarkan nyamuk saat menggigit manusia. Sebagian
besar virus tersebut berada pada kelenjar liur yang terdapat pada alat tusuk
nyamuk. Sehingga pada saat nyamuk tersebut menggigit manusia, maka bersamaan
dengan air liur nyamuk tersebut masuk kedalam darah manusia. Virus hanya dapat
hidup di dalam sel hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing
dengan sel manusia yang ditempati terutama untuk kebutuhan protein. Apabila
daya tahan tubuh seseorang yang terkena infeksi virus tersebut rendah sebagai
akibatnya sel jaringan akan semakin rusak. Apabila virus tersebut berkembang
banyak, fungsi organ tubuh tersebut baik, maka akan sembuh dan timbul kekebalan
terhadap virus dengue yang pernah masuk ke dalam tubuhnya.
Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue disebarkan oleh nyamuk betina
Aedes Aegypti, sedangkan Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhaege
Fever (DHF) juga penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan disebarkan oleh
nyamuk Aedes Aegypti dimana suhu tubuh menjadi meningkat diatas normal yang
cenderung dapat menimbulkan kematian.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Demam Berdarah Dengue
atau yang lebih dikenal dengan DBD ini merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue
yang ditularkan oleh jenis nyamuk betina Aedes Aegypti kepada manusia melalui
gigitan nyamuk kepada manusia yang dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti
gejala demam yang sangat tinggi dan dapat menimbulkan kematian.
2. Faktor
Penyebab Demam Berdarah Dengue
Menurut
Dinas Kesehatan DKI dalam buku yang berjudul Demam Berdarah Dengue (DBD) yang
ditulis oleh Misnadiarly, disebutkan mengenai faktor penyebab DBD tersebut,
yakni virus dengue tersebut ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan
nyamuk Aedes Aegypti yang merupakan faktor epidemi paling utama yang membawa
dan menularkan virus dengue tersebut kepada manusia. Faktor penyebab lain yang
dapat memungkinkan seseorang dapat terkena DBD dapat disebabkan antara lain:
a.) Dilihat dari habitat nyamuk tersebut, misalnya
untuk nyamuk betina Aedes Aegypti hidup di tempat yang padat, sehingga tempat
umum untuk orang-orang yang sedang melakukan aktifitas seperti di tempat kerja,
sekolah, dan tempat umum lainnya yang memungkinkan nyamuk tersebut dapat
berhubungan langsung dengan manusia. Atau juga di kompleks perumahan yang jarak
satu rumah dengan rumah yang lain tersebut tidak terlalu jauh, seperti di
wilayah rumah padat penduduk, kostan, dan lain-lain. Sehingga kondisi
lingkungan dan tempat tinggal tersebut dapat memberikan kesempatan untuk nyamuk
menularkan virus dengue kepada manusia menjadi semakin besar.
b) Perilaku masyarakat terhadap pola hidup
bersih dan sehat. Nyamuk senang bersarang di tempat-tempat yang dapat
memberikannya ruang untuk berkembang biak, misalnya di kaleng bekas yang
tergenang air apabila hujan, di bak mandi yang jarang dikuras dan terbuka. Dan
juga apabila kondisi tubuh seseorang kurang sehat, berarti kemungkinan untuk
dapat tertular virus dengue dari nyamuk akan semakin besar karena ketahanan
tubuh seseorang yang lemah.
3. Penyebab/ Etiologi
Penyebab utama dalam penularan
penyakit DBD kepada manusia memang disebabkan oleh nyamuk. Namun tidak semua
nyamuk dapat menularkan penyakit DBD tersebut kepada manusia. Karena
berdasarkan informasi dari data-data yang ditemukan, terdapat beberapa jenis
nyamuk yang berpotensi menularkan penyakit DBD tersebut kepada manusia selain
jenis nyamuk betina Aedes Aegypti sebagai faktor utama dalam menularkan
penyakit DBD kepada manusia. Beberapa spesies nyamuk tersebut ialah jenis
nyamuk lain seperti nyamuk Aedes Albopictus, Aedes Polynesiensis, anggota dari
Aedes Scutellaris Complex, dan Aedes (Finlaya) Niveus. Jenis nyamuk tersebut
memiliki ciri khas berwarna belang putih di kakinya.
Demam berdarah tidak menular langsung dari manusia ke manusia, melainkan
melalui nyamuk sebagai perantaranya. Beberapa jenis spesies nyamuk tersebut
selain Aedes Aegypti dianggap sebagai faktor sekunder bagi nyamuk yang
menularkan virus dengue kepada manusia yang menyebabkan DBD. Karena habitat
nyamuk tersebut berbeda-beda, seperti contohnya nyamuk Aedes Aegypti merupakan
nyamuk yang paling berpotensi dalam menularkan penyakit DBD kepada manusia dan
lebih banyak dikenal sebagai nyamuk yang menularkan DBD, karena nyamuk Aedes
Aegypti hidup dan berkembang biak di lingkungan yang padat, oleh karena itu
nyamuk tersebut sangat dekat dengan manusia karena hidup dan berkembang biak di
lingkungan yang sama. Sedangkan untuk jenis nyamuk lain seperti Aedes
Albopictus, nyamuk tersebut hidup di lingkungan seperti di kebun-kebun,
sehingga jarang melakukan kontak dengan manusia.
Jenis nyamuk yang menularkan virus dengue pun hanya nyamuk betina saja,
karena nyamuk jantan menghisap cairan tumbuhan dan sari bunga untuk keperluan
hidupnya, sedangkan untuk nyamuk betina ialah dengan menghisap darah untuk
keperluan hidupnya. Serta nyamuk-nyamuk tersebut lebih cenderung untuk
menghisap darah manusia dari pada menghisap darah hewan atau binatang. Dan
dilihat dari lingkungan tempat tinggalnya, nyamuk Aedes Aegypti tersebut lebih
senang bersarang dan berkembang biak di tempat yang bersih, seperti di genangan
air dalam bak mandi dan di sudut-sudut dalam rumah seperti tempat gantungan
baju.
Wilayah Indonesia merupakan wilayah dengan iklim tropis, sehingga sering
terjadi musim penghujan. Menurut Sri Rezeki Hadi Negoro, dari RSUPN Cipto
Mangunkusumo, demam berdarah dengue memang mencapai puncaknya pada musim hujan,
tetapi bukan tidak mungkin penyakit tersebut dapat muncul di bulan lain seperti
pada musim kemarau. Karena pada musim penghujan perkembangbiakan nyamuk Aedes
Aegypti menjadi meningkat, dimana pada saat itu terjadi banyak genangan air
yang menjadi tempat bersarangnya nyamuk. Akan tetapi apabila pada musim
kemarau, sepanjang nyamuk Aedes Aegypti masih ada dan tersedianya air sebagai
sarana siklus perkembang biakannya, maka kasus demam berdarah tetap rawan.
4. Mekanisme Penularan Virus Dengue
Kepada Manusia.
Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi,
menuliskan dalam sebuah situs online mengenai “Awas Demam Berdarah Dengue”
yakni, saat seseorang tergigit nyamuk Aedes Aegypti yang sudah terinfeksi.
virus dengue di dalam tubuh nyamuk tersebut, maka virus dengue tersebut akan
masuk bersama air liur nyamuk kedalam tubuh manusia. Dalam tubuh manusia,
terutama jika daya tahan tubuh sedang menurun atau tidak mempunyai kekebalan
terhadap virus dengue tersebut, virus dengan cepat akan memperbanyak diri dan
menginfeksi sel-sel darah putih serta kelenjar getah bening yang kemudian masuk
kedalam sirkulasi darah. Pada satu hingga dua hari akan terjadi reaksi
penolakan antara antibodi dengan virus dengue yang terdeteksi sebagai benda
asing oleh tubuh. Badan biasanya mengalami gejala demam dengan suhu antara 38°
hingga 40° C, sebagai akibat reaksi antibodi dengan virus tersebut akan diikuti
juga dengan penurunan trombosit. Penurunan trombosit ini mulai dapat terdeteksi
pada hari ketiga. Masa kritis penderita demam berlangsung sesudahnya, yakni
mulai pada hari keempat dan kelima. Pada fase ini, suhu badan akan turun,
diikuti dengan melemahnya tubuh hingga bisa terjadi penurunan kesadaran hingga
hilang kesadaran yang disebut Dengue Shock Syndrome (DSS).
5. Ciri Umum Gejala Seseorang Terkena
DBD.
Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, gejala DBD tidak begitu
jelas dan sering tertukar atau menyerupai gejala demam lain seperti demam
tifoid, infeksi tenggorok, infeksi otak, campak, flu atau infeksi saluran nafas
lainnya yang disebabkan oleh virus. Masyarakat awam, bahkan seorang dokter ahli
pun kadang sulit mendeteksi lebih awal diagnosis DBD. Gejala awal DBD tidak
khas, hampir semua infeksi akut pada awal penyakitnya menyerupai DBD. Gejala
khas seperti pendarahan pada kulit atau tanda pendarahan lainnya kadang terjadi
hanya di akhir periode penyakit. Tragisnya bila penyakit ini terlambat
didiagnosis, maka kondisi penderita sulit diselamatkan. Perjalanan penyakitnya
sangat cepat, dalam beberapa hari bahkan dalam hitungan jam penderita bisa
masuk dalam keadaan kritis. Untuk menghindari keterlambatan diagnosis DBD, maka
perlu diketahui deteksi dini dan tanda bahaya DBD. Jika terdapat gejala klinis
seperti dibawah ini, sebaiknya diwaspadai kemungkinan demam berdarah.
Berikut
ciri-ciri dan gejala seseorang terkena DBD :
a)
Mendadak panas tinggi selama 2 -7 hari, tampak lemah lesu, suhu badan antara
38-40°C. Pada demam berdarah, dikenal pola demam pelana kuda (demam beberapa
hari naik lalu turun, dan naik kembali sehingga menyerupai bentuk pelana kuda).
Selain itu apabila panas tersebut tidak disertai batuk, pilek dan sakit
tenggorokan, atau di lingkungan rumah tidak ada yang menderita penyakit flu,
maka perlu dicurigai kemungkinan terkena DBD.
b)
Sakit kepala, badan dan sendi terasa pegal dan linu. Tampak bintik-bintik merah
pada kulit, dan jika kulit direnggangkan bintik merah itu tidak hilang.
c) Kadang-kadang
pendarahan di hidung (mimisan). Perut tidak enak, ada rasa mual dan muntah.
Jika sudah berat, buang air besar dan muntah bercampur darah.
d)
Kadang-kadang nyeri pada ulu hati karena terjadi pendarahan di lambung.
e) Bila
sudah parah, penderita gelisah, ujung tangan dan kaki dingin, dan berkeringat.
Pemeriksaan laboratorium yang
menunjang dugaan demam berdarah seperti turunnya trombosit (sel darah yang berperan
untuk pembekuan darah), naiknya hematokrit (penunjuk kekentalan darah). Ada
juga pemeriksaan jenis virus yang menyerang. Infeksi virus dengue dalam tubuh
dapat menyebabkan naiknya pembuluh darah yang menyebabkan cairan plasma tubuh
merembes keluar pembuluh darah. Inilah yang menyebabkan kekentalan darah (yang
ditunjukan oleh kadar hematokrit dan kadar hemoglobin) meningkat dan penderita
akan mengalami dehidrasi. Selain itu, pembuluh darah juga menjadi rapuh dan
rusak, sehingga mudah terjadi pendarahan. Virus tersebut juga dapat memicu
mekanisme dalam tubuh yang dapat menyebabkan faktor pembekuan darah, dan juga
penurunan trombosit yang kurang dari 150.000. Perubahan tersebut biasanya
terjadi pada hari ke-3 hingga ke-5. Karena masa paling kritis yang dapat
menyebabkan kematian adalah pada saat penderita mengalami syok. Bisa dari
akibat pendarahan yang banyak atau akibat kebocoran cairan tubuh yang tidak
terlihat dari luar.
Waktu yang
paling kritis adalah hari-hari pertama setelah panas turun, bukan pada saat
panas sedang tinggi-tingginya. Oleh karenanya pasien DBD yang dirawat di Rumah
Sakit biasanya tidak diperbolehkan pulang dahulu walaupun suhu panas badannya
sudah turun.
6. Profil Seseorang yang Dapat Terkena
DBD
Menurut
Misnadiarly, demam berdarah dengue merupakan penyakit yang senantiasa ada
sepanjang tahun di Indonesia. Oleh karena itu disebut penyakit epidemis.
Penyakit ini menunjukan peningkatan jumlah orang yang terserang setiap 4-5
tahun. Kelompok yang sering terkena adalah anak-anak umur 4-10 tahun, walaupun
dapat pula mengenai bayi di bawah umur 1 tahun. Akhir akhir ini banyak juga
megenai orang dewasa muda umur 18-25 tahun. Laki-laki dan perempuan sama-sama
dapat terkena tanpa terkecuali. Cara hidup nyamuk terutama nyamuk betina yang
mengigit pada pagi dan siang hari, kiranya menjadi penyebab seseorang untuk
terkena demam berdarah. Nyamuk Aedes Aegypti yang menyukai tempat teduh,
terlindung matahari, dan berbau manusia, oleh karena itu anak-anak atau balita
yang masih membutuhkan tidur pagi dan siang hari sering kali dengan mudah
menjadi sasaran gigitan nyamuk. Sarang nyamuk selain di dalam rumah, juga
banyak dijumpai di sekolah, apalagi apabila keadaan kelas gelap dan lembab.
Menurut
Aman B. Pulungan, dari RSIA Hermina Jati Negara, awalnya demam berdarah memang
lebih banyak menyerang anak-anak, tapi sekarang telah terjadi pergeseran, orang
dewasa yang terkena pun cukup banyak. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor daya
tahan tubuh, seperti jika orang dewasa tersebut kurang menjaga kondisi tubuhnya
seperti berolah raga dan pola makan yang tidak baik dan sehat dapat menyebabkan
ketahanan tubuh seseorang menjadi berkurang, jenis makanan yang dikonsumsi
sangat mempengaruhi kesehatan. Apalagi pada zaman sekarang ini orang-orang
cenderung menyukai hal-hal yang instan, termasuk dalam mengkonsumsi makanan
seperti makanan cepat saji yang tidak terlalu baik dikonsumsi tubuh, apalagi
jika dalam jumlah yang banyak. Hal lain yang bisa mempengaruhi kondisi tubuh
ialah karena orang dewasa cenderung mudah didera stress, sehingga perhatian
terdahap kondisi tubuh bisa jadi berkurang, seperti berkurangnya nafsu makan,
kestabilan kondisi tubuh menjadi berkurang, dan lain-lain. Pengaruh kondisi
lingkungan juga dapat mempengaruhi daya tahan tubuh seseorang, seperti di
daerah perkotaan yang kadar polusinya sangat tinggi, sehingga orang dapat
menghirup udara kotor yang sudah tercemar.
Di samping
nyamuk Aedes Aegypti yang senang hidup di dalam rumah, juga terdapat nyamuk
Albopictus yang dapat menularkan penyakit DBD. Nyamuk Aedes Albopictus hidup di
luar rumah, di kebun yang rindang, sehingga anak usia sekolah dapat terkena
gigitan nyamuk ketika sedang bermain, atau pada orang dewasa jika melakukan
aktivitas seperti bekerja atau berkebun. Faktor daya tahan anak yang masih
belum sempurna seperti halnya orang dewasa, agaknya juga merupakan faktor
mengapa anak lebih banyak terkena penyakit DBD dibandingkan orang dewasa. Di
perkotaan, nyamuk sangat mudah terbang dari satu rumah ke rumah lainnya dari
rumah ke kantor, atau tempat umum seperti tempat ibadah, dan lain-lain. Oleh
karena itu, orang dewasa pun menjadi sasaran berikutnya setelah anak-anak,
terutama dewasa muda (18-25 tahun) sesuai dengan kegiatan kelompok ini pada
siang hari di luar rumah. Walaupun demikian, pada umumnya penyakit DBD dewasa
lebih ringan dari pada anak-anak.
7. Penanganan Demam Berdarah Dengue
Menurut Fatkhur Rohman Masyhudi, penanganan awal DBD,
dimulai pada saat munculnya gejala demam, penderita dianjurkan untuk
beristirahat kemudian memberikan asupan cairan sebagai pengganti plasma darah
yang mulai keluar dari pembuluh darah. Saat ini, cairan yang dianjurkan adalah
larutan gula dan garam atau oralit yang komposisinya dinilai setara dengan
plasma darah.
Pemakaian jus jambu, susu manis atau teh
manis bisa saja digunakan sebagai penyerta, bergantian antara asupan larutan
gula-garam. Jika pada hari ketiga, demam masih juga belum turun, diajurkan
untuk segera dibawa ke dokter untuk pemeriksaan trombosit.
Setelah
seseorang mengetahui gejala awal seseorang terkena penyakit DBD, maka
diperlukan penanganan dan perawatan yang cepat dan tepat agar penyakit tersebut
tidak semakin parah.
Karena ternyata penyembuhan DBD sangat tergantung pada
perawatan dan penanganan yang cepat. Berikut pertolongan pertama yang dapat
dilakukan kepada penderita DBD:
a)
Memberikan minum sebanyak-banyaknya kira-kira 2 liter (8 gelas) dalam satu hari
atau 3 sendok makan setiap 15 menit. Dengan memberikan minum yang banyak
diharapkan cairan dalam tubuh tetap stabil.
b)
Demam yang tinggi demikian juga mengurangi cairan tubuh dan dapat menyebabkan
kejang pada penderita yang mempunyai riwayat kejang bila demam tinggi. Untuk
menurunkan demam, beri obat penurun panas yang berasal dari golongan
parasetamol atau asetaminophen. Tidak disarankan untuk diberikan jenis asetosal
atau aspirin karena dapat merangsang lambung sehingga akan memperberat bila
terdapat pendarahan lambung.
c) Apabila
penderita demamnya terlalu tinggi sebaiknya diberikan kompres hangat dan bukan
kompres dingin, karena kompres dingin dapat menyebabkan penderita menggigil.
d)
Sebagai tambahan, untuk penderita yang mempunyai riwayat kejang demam di
samping obat penurun panas dapat diberikan obat anti kejang.
e)
Pada awal sakit yaitu demam 1-3 hari, sering kali gejala menyerupai penyakit
lain seperti radang tenggorok, campak, atau demam tifoid (tifus). Oleh sebab
itu diperlukan kontrol ulang ke dokter apabila demam tetap tinggi 3 hari terus
menerus apalagi jika penderita bertambah lemah dan lesu.
f)
Untuk membedakan dengan penyakit lainnya seperti tersebut di atas, pada saat
ini diperlukan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah darah.
g)
keadaan penderita cenderung menjadi kental atau lebih.
h)
Apabila masih baik, artinya tidak ada tanda kegawatan dan hasil laboratorium
darah masih normal, maka penderita dapat berobat jalan. Kegawatan masih dapat
terjadi selama penderita masih demam sehingga pemeriksaan darah sering kali
perlu diulang kembali.
Menurut Widodo Judarwanto menuliskan dalam website nya
mengenai “Demam Berdarah Dengue atau Bukan?” yakni, secara medis sebenarnya
tidak ada pengobatan secara khusus pada penderita DBD. Penyakit ini adalah self limiting desease atau penyakit yang
dapat sembuh dengan sendirinya. Prinsip pengobatan secara umum adalah pemberian
cairan berupa elektrolit (khususnya natrium) dan glukosa. Pemberian minum yang
mengandung elektrolit dan glukosa, seperti air buah atau minuman yang manis,
dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada penderita DBD. Hal penting
dalam kasus DBD ini bukan mengobati tetapi melakukan pencegahan sejak dini.
Tetapi tidak ada jaminan seseorang akan luput sepenuhnya hanya dengan melakukan
pencegahan saja. Paling tidak adalah kemampuan dan ketanggapan dalam mendeteksi
dini penyakit DBD tersebut secara cermat dan benar, serta melakukan
penanganannya secara cepat dan tepat apabila sudah terlanjur terkena penyakit
DBD tersebut. Sehingga setidaknya dapat mengurangi kemungkinan untuk tidak
sampai pada keadaan yang lebih parah yang tidak diinginkan seperti kematian.
8. Kapan Penderita Dibawa ke Rumah
Sakit
Seorang yang diduga menderita demam
berdarah akan mengalami bahaya apabila mendapat syok dan pendarahan hebat.
Untuk mencegah hal-hal tersebut, penderita dianjurkan dirawat di rumah sakit.
Seseorang harus dirawat di rumah sakit apabila dianjurkan dirawat di rumah
sakit dan menderita gejala-gejala di bawah ini:
a. Demam
terlalu tinggi (lebih dari 39° C atau lebih)
b. Muntah
terus-menerus
c. Tidak
dapat atau tidak mau minum sesuai dengan anjuran
d. Kejang
e. Pendarahan
hebat, muntah atau berak darah.
f. Nyeri
perut hebat.
g. Timbul
gejala syok, gelisah atau tidak sadarkan diri, napas cepat, seluruh badan
teraba dan lembab, bibir dan kuku kebiruan, merasa haus, kencing berkurang atau
tidak sama sekali.
h. Hasil
laboratorium menunjukan peningkatan kekentalan darah dan atau penurunan jumlah
trombosit.
Perlu
diingatkan, pada saat mengantar penderita untuk dirawat, sesaat setelah tiba di
rumah sakit segera diberitahukan kepada perawat bahwa penderita kemungkinan
menderita demam berdarah. Pemberitahuan ini perlu disampaikan kepada perawat
atau dokter yang menerima pertama kali untuk mendapat pertolongan lebih cepat.
Penderita dalam keadaan gawat memerlukan pertolongan segera dan makin cepat
ditolong akan memperbesar kemungkinan untuk sembuh kembali. Apabila salah satu
anggota keluarga menderita sakit demam berdarah, karena mudah menular melalui
gigitan nyamuk, sebaiknya segera berobat untuk memastikan apakah tertular demam
berdarah atau tidak.
BAB
III
KERANGKA
KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kerangka
konsep penilitian
Penelitian
ini menggunakan metode analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional (sekat silang) yang
bertujuan untuk menggambarkan hubungan variabel yaitu hubungan tingkat
pengetahuan dengan sikap masyarakat dengan pencegahan demam berdarah dengue
(DBD) diwilayah Tomohon.
Gambar
3.1 :
Hubungan
tingkat kepatuhan dengan sifat masyarakat dengan pencegahan demam berdarah
dengue (DBD) ) diwilayah kerja puskesmas taratara kecamatan tomohon barat
B. Hipotesa
penelitian
Hipotesis adalah
kesimpulan teoritis yang masih baru dibuktikan kebenarannya memulai analisa
terhadap bukti-bukti empiris. Setelah membuktian dari hasil penelitian, maka
hipotesa ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau ditolak
H0 : tidak ada hubungan
tingkat pengetahuan dengan sifat masyarakat dengan pencegahan demam berdarah
(DBD)
H1: adanya hubungan
tingkat pengetahuan dengan sifat masyarakat dengan pencegahan demam berdarah
(DBD)
C. Definisi
Operasional
Definisi operasional
merupakan penjelasan semua variabel dan istilah yang akan digunakan dalam
penelitian secara operasional sehingga mempermudah pembaca dalam megartikan
makna penelitian. (setiadi, 2013).
Tabel 3.1 definisi operasional
No
|
Variabel
|
Definisi operasional
|
parameter
|
Instrument
|
skala
|
skore
|
1
|
Independen:
Tingkat pengetahuan dengan sikap
masyarakat
|
Tingkat pengetahuan adalah: kemampuan
seseorang dalam memahami sesuatu terhadap objek tertentu yang mana tentang
penglihatan, pendengaran, penciuman dll.
|
Tingkat pengetahuan dengan sikap
masyarakat
|
kousioner
|
Nominal
|
Pengetahuan
baik: 7 - 10
Pengetahuan
cukup : 4 - 6
Pengetahuan
kurang: 0-3
|
2
|
Dependen :
Pencegahan demam berdarah (DBD)
|
Demam berdarah adalah infeksi fivirus
yang ditularkan oleh gigitan nyamuk aedes dan dapat membuat penderitan
menjadi pusing, sakit kepela, demam, dan nyeri .
|
Pelaksanaan:
melakukan pengasapan (foging) dan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan kegiatan 3M (menguras, menutup,
mengubur)
|
Lembaran observasi
|
Nominal
|
1.lakukan
2.tidaklakukan |
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain
penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode Deskriptif Analitik dengan pendekatan croos sectional dimana data
menyangkut variabel bebas atau resiko dan variabel terikat atau variabel
akibat, akan dikumpulkan dalam waktu bersamaan .(notoadmodjo, 2012)
B.
Tempat
dan waktu penelitian1. Tempat penelitian
Penelitian ini akan
direncanakan diwilayah kerja puskesmas taratara kecamatan tomohon barat
2. Waktu
penelitian
Penelitian ini
direncanakan akan dilakukan pada bulan juli 2017.
C. Populasi
dan teknik sampel
1. Populasi
Populasi merupakan
wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya (Setiadi,2013).
Populasi dalam penelitian ini adalah
penderita DBD sebanyak 140 orang di wilayah kerja Puskemas taratara kecamatan
tomohon barat.
2.
Sampel
Sampel penelitian
adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan di anggap
mewakili seluruh populasi. Sedangkan sampling adalah suatu proses dalam
menyeleksi porsi untuk menjadi sampel dari populasi untuk dapat mewakili
populasi (Setiadi, 2013)
Cara pemilihan sampek dalam penelitian
ini dilakukan dengan cara purposive
sampling (non probability sampling ) yaitu
suatu tehnik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi
sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti yang disesuaikan dengan krikteria
inklusi yang telah di rangcang oleh peneliti, sehingga pemilihan sampel
tersebut dapat mewakili karakteristik populas yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008).
D. Instrument
penelitian
Instrument
penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulan data agarpekerjaannya lebih mudah dan hasilnya, lebih baik, dalam
arti lebih cermat, lengkap, dan
sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto, 2014)
Untuk melakukan pengumpulan data
peneliti membuart instrument sebagai pedoman pengumpulan data. Koesioner
terdiri dari .
a. Data
demografi responden.
b. Lembaran
koesioner mengenai tingkat pengetahuan dengan sikap masyarakat berisi 10
pertanyaan yang diukur menggunakan skala penggukuran skala Guttman dengan
krikteria pemberia nilai 2 (dua) untuk jawaban ya nilai 1(satu) untuk jawaban tidak.
E. Analisa
data
Agar
lebih bermakna data yang telah diberi
skor dianalisa dengan uji statistic, analisa data dilakukan dengan dua tahap
yaitu :
1. Analisa
univariat
Dilakukan terhadao
tiap-tiap variabel penelitian terutama untuk melihat tampilan distribusi
frekuensi dan presentase dari tiap-tiap variabel.
2. Analisa
bivariate
Untuk melihat hubungan
dari variabel independen terhadap veriabel dependen. Analisa bivariate yang
dilakukan terhadap dua variabel diduga berhubungan atau berkorelasi.
Dengan menggunakan
analisis dari uji statistic Chi Square jika tidak memenuhi syarat maka akan
menggunakan uji fisher exact dengan tingkat kemaknaan 뱲0,05.
F.
Etika
penelitian
Setiap
penelitian yang menggunakan objek harus mengikuti aturan etika dalam hl ini
adalah adanya persetujuan
(setiandi,2013). Etika yanh ditulis dalam penelitian ini antara lain :
1. Lembaran
persetujuan ( informend concent)
Responden ditetapkan
terlebih dahulu sesuai kriteria inklusi, lalu diberi penjelasan tentang
kegiatan penelitian, tujuan dan dampak pada responden, setelah responden
menyatakan setuju untuk dijadikan subjek penelitian maka diberikan kesepakatan
tertulis melalui lembar informed consent, bila subjek menolak
maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek.
2. Tampa
nama ( Anonimity)
Seluruh responden yang dijadikan
sample dalam penelitian tidak akan disebutkan namanya baik dalam kuesioner
maupun dalam penyajian pelaporan penelitian tetapi lembar tersebut diberikan
kode.
a.
Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya kelompok data
tertentu yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Gulo,
S. 2012 Hubungan Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Kebersihan Lingkungan
Dengan Upaya Pencegahan Dbd Di Wilayah Kerja Puskesmas Simalingkar Kec. Medan
Tuntungan, (Di Akses Pada 2012)
Paendong,
C. Nursalam, Makausi, E 2015 Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Dengan
Pencegahan Demam Berdarah Dengue(Dbd) Di Wilayah Kerja Puskesmas Taratara
Kecamatan Tomohon Barat, E-jurnal vol 2 (2) juni 2015
Nursalam,
2008. Konsep dan metodologi penilitian ilmu keperawatan. Salemba madika.
jakarta
Riset kesehatan dasar 2013
Riset kesehatan dasar 2013